eccsmk2bpp

Mega

Pernyataan itu dia lontarkan menanggapi pendapat Prof Dake dalam bukunya Sukarno File, Berkas-berkas Sukarno 1965-1967, Kronologi Suatu Keruntuhan dalam peluncuran Kamis (17/11) di Jakarta.

Antonie Dake mengemukakan, BK bukan saja mengetahui terjadinya aksi pembersihan terhadap sejumlah jenderal Angkatan Darat.

Bahkan, dia pernah mengeluh dan minta tolong kepada Komandan Batalyon I Tjakrabirawa Letkol Untung untuk menertibkan para jenderal yang dia anggap tidak loyal dan antikomunisme.

Mega mempertanyakan tujuan dari pernyataan Dake tentang keterlibatan BK dalam kejadian berdarah itu. Apalagi, BK sudah mendapat gelar Bapak Bangsa dan Proklamator. ”Apa maunya menjelek-jelekkan Bung Karno?” ujarnya.

Mega pun mengkritik keras buku Dake itu yang dalam penilaiannya tidak berimbang karena tidak mencatat jasa-jasa BK sebagai pahlawan. Bahkan, cenderung mencari-cari kejelekan dan keburukannya semata. ”Apa Dake mau memecah belah bangsa ini dengan mencari keburukan yang dicari-cari?”

Pada kesempatan itu, Mega juga mempertanyakan tentang keberadaan Surat Perintah Sebelas maret (Supersemar) 1966 yang sampai sekarang tidak jelas keberadaannya.

Padahal, itu adalah catatan sejarah penting yang bisa membuka seluruh permasalahan saat itu. ”Harus dijawab keberadaannya,” tandasnya.

Secara terpisah, Sukmawati juga mengritik buku Dake. Dia menekankan, tidak mungkin BK berada di balik tragedi itu. Untuk itu, dirinya akan membuat buku untuk meluruskan tudingan tersebut.

Yang jelas, pernyataan Dake itu bertendensi memecah belah bangsa Indonesia dengan membangkitkan politik divide et impera jilid dua.

”Janganlah kita terkecoh. Janganlah sejarah diputar balik. Terima saja apa adanya,” katanya.

Dalam kejadian itu, imbuh Sukma, BK menyatakan siap mengorbankan diri demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (di-49j)